Hanya sedikit mengarsipkan pemahaman: Tekhnologi Produksi Plankton, Bentos dan Alga (Pakan Alami)

Kuliah 1

TEKNOLOGI PRODUKSI PAKAN ALAMI

  1. Nanochloropsis
  2. Isochrysis
  3. Chaetoceros
  4. Spirulina
  5. Skeletonema
  6. Pavlopa
  7. Tetraselmis
  8. Volvox
  9. Rodhomonas
  10. Chlorella

Larva ikan >>> Karnivora >>> Mengandalkan pengelihatan dlm mncari makan

Pakan alami digunakan karena:

  1. Ukuran larva >>> Bukaan mulut
  2. Saluran pencernaan

Peran pakan alami:

  1. Growth and development
  2. Imune enhancer >>> Pertahanan tubuh >>> Kebugaran
  3. Imuostimulan >>> Terhadap penyakit >>> Kesehatan

Fitoplankton

Peran fitoplankton

–          Produsen Primer Perairan

–          Peran kunci siklus nutrient

–          Menjaga kestabilan pH

–          Biofilter hidup

Pemanfaatan Fitoplankton

–          Sumber makronutrien, vitamin dan trace elements untuk organisme perairan

–          Enhancer warna pada ikan

–          Pemurnian air dan pengolahan limbah

–          Sebagai therapeutic, antibiotic-like effect untuk menjaga kesehatan ikan

–          Sebagai bahan baku pangan, pakan, kosmetik dan obat-obatan

 

 

 

Plankton dalam akuakultur

  • Berukuran lebih kecil dari plankton net (nanoplankton)

Chlorella                                              (3-9 µm)

Isochrysis galbana                            (5-7 µm)

Tetraselmis chuii                              (7-10 µm)

Dunaliella tertiolecta                      (7-9 µm)

Nannochloris oculata                      (2-4 µm)

Chaetoceros gracilis                        (6-8 µm)

Nitzschia closterium                        (2-4 µm)

Cyclotella nana                                  (6-10 µm)

  • Ukuran lebih besar dari plankton net

Skeletonema

Phaeodactylum

Nilai Nutrisi fitoplankton tergantung pada:

  • Ukuran sel
  • Digestibility
  • Komponen toksik
  • Komposisi biokimia
  • Komponen penting di lipid phyto: HUFA, EPA, ARA, DHA
  • Phyto juga merupakan sumber ascorbic acid
  • NILAI NUTRISI PHYTO JUGA DIPENGARUHI OLEH KONDISI KULTURNYA

FAKTOR PEMBATAS AIR TAWAR                  >>> PHOSPHATE

FAKTOR PEMBATAS AIR LAUT  >>> NITROGEN

Sumber Kontaminan

–          Fertilizer

–          Starter Culture

–          Water supply system

–          Water source

–          Rain

–          Bugs

–          Air

–          Air supply system

–          Culture tank

–          Mouth

–          Dirty hand

–          Glassware/Equipment

 

Pola Pertumbuha Fitoplankton

–          Lag phase/induction phase          : Fase awal inokulasi

–          Exponential growth phase           : Kepadatan bertambah sesuai logaritma

–          Stationary phase                              : Fase seimbang antara hidup dan mati

–          Declining growth rate phase       : Penurunan kecepatan tumbuh

–          Death phase                                      : Jumlah sel menurun

 

Bagian 2

JENIS-JENIS FITOPLANKTON

  • Alga Hijau (Chlorophyceae)
  • Alga Coklat (Bacillariophyceae/Phaeophyceae)
  • Alga Keemasan (Chrysophyceae)
  • Alga Merah (Rhodophyceae)
  • Alga Hijau Kebiruan (Cyanophyceae)

Pigmen pada fitoplankton

1. Warna biru (Fikosianin)

2. Warna hijau (Klorofil)

3. Warna pirang (Fikosantin)

4. Warna merah (Fikoeritrin)

5. Warna kuning (Xantofil)

6. Warna keemasan (Karoten)

 

ALGA HIJAU

  • Chlorococcum, Chlorella                                     : sel tunggal tidak bergerak
  • Chlamydomonas, Euglena, Tetraselmis       : sel tunggal dapat bergerak
  • Volvox, Scenedesmus                                           : koloni dapat bergerak
  • Hydrodictyon reticulatum                                 : koloni tidak dapat bergerak
  • Spyrogyra, OedogoniumSpyrogyra, OedogoniumSpyrogyra, Oedogonium                                                              :  bentuk benang
  • Ulva, Chara                                                                : bentuk lembaran

ALGA COKLAT

  • Berwarna coklat karena mengandung silikat
  • Berbentuk seperti cawan petri
  • Reproduksi secara pembelahan sel
  • Contoh :  Chaetoceros calcitran , Skeletonema costatum

CYANOPHYCEAE

  • Berwarna hijau kebiruan karena mengandung klorofil dan pigmen kebiru-biruan yaitu phycocyanin
  • Berbentuk benang yang melingkar seperti spiral, misalnya Spirulina

 

Bagian 3

KULTUR PAKAN ALAMI

Kultur Murni

–          Merupakan hasil isolasi dan dikultur dalam kondisi steril

–          Membutuhkan alat dan bahan steril

–          Dapat menggunakan 2 jenis media (Agar dan Cair)

–          Aplikasi medium premix (Medium walne dan guilard)

Teknik isolasi Mikroalga

–          Metode spraying

–          Metode pipa kapiler

–          Isolasi sel/koloni/filament

–          Pengencer bertingkat

–          Gesek agar

Treatment Media Kultur

–          Filtrasi : bisa memakai filter pasir, cartridge atau kersik ukuran 5 mikron

–          Media yang banyak mengandung bahan organik ditreatment memakai

bahan karbon aktif

–          Treatment akhir bisa berupa UV sterilized, klorinasi, atau sterilisasi

Persyaratan kultur

–          Biologi                   : Bebas kontaminan (protozoa, dll)  >>> Sterilisasi

(Desinfeksi/Chlorinasi)

–          Kimia                     : Tercukupinya nutrisi (Makronutrien, Mikronutrien)

–          Fiskimper            : Cahaya, suhu, pH

 

Faktor pendukung

–          Nutrisi

–          pH

–          Cahaya

–          Aerasi

–          Suhu

–          Salinitas

Kuliah 4

Pupuk dan Pemupukan

Faktor mendasar yang mempengaruhi kelayakan pembangunan, perbaikan dan pengembangan akuakultur

Independen

–          tidak dipengaruhi faktor lain

–          tidak dapat dirubah secara efektif

ex:

  • Lingkungan fisik
  • Manusia

Dependen

–          dipengaruhi faktor independen

–          dipengaruhi faktor dependen lain

–          dapat diubah secara efektif

ex:

  • Teknologi
  • Komoditas
  • Infrastruktur
  • Sarana produksi (benih, pakan, obat-obatan dsb.)

PUPUK

—  Organik :  memicu perumbuhan zooplankton (rotifera, mikro-krustasea, protozoa, dll); serta menumbuhkan organisme bentik seperti berbagai jenis cacing

—  Inorganik  : menjaga keseimbangan nutrien, terutama N, P, dan Si

Pentingnya menjaga stabilitas plankton:

—- Phytoplankton merupakan dasar dari produktivitas primer suatu perairan yang menyediakan sumber pakan bagi zooplankton dan meiofauna. Algae juga merupakan tempat untuk berbagai bakteri berkembang-biak

—- Penyedia oksigen yang murah pada media budidaya

– Membatasi penetrasi cahaya ke dasar media budidaya

—- Memproduksi CO2, buffer pH

—- Biofilter alami : menjaga stabilitas dan agar konsentrasi komponen2 toksik seperti ammonia tetap rendah

Pupuk Organik

—  Dikonsumsi langsung oleh ikan dan udang

—  Memicu proliferasi dari organisme pengguna pupuk

—  Menumbuhkan koloni bakteri yang dapat dikonsumsi benih ikan dan udang

Pemakaian Pupuk Inorganik

—  Tipe pupuk : jenis nutrien, komposisi, dan solubility

—  Rasio N:P = <5:1 dinoflagelata, 15-20:1 diatom, rasio N:P

>20:1 blue-green algae

—  Dosis harian

—  Frekuensi pemakaian

Menumbuhkan plankton yang menguntungkan (diatom & chlorofita):

—  Pertahankan kadar P >0,1 ppm

—  Jika N sudah cukup, jangan memberikan pupuk berbasis N

—  Jika N berlebihan, berikan pupuk berbasis P untuk menjaga rasio ideal N:P

—  Pupuk Si diperlukan jika kandungan Si perairan  <1,0 ppm

Rekomendasi Dosis untuk Bak Pemeliharaan:

Dosis Organik Urea MAP

Si

Awal

8,3

4,7

0,24

0,42

Pemeliharaan

1,2

0,7

0,04

0,02

Rekomendasi Dosis untuk Kolam:

Jenis Pupuk

Dosis Awal

(kg/Ha)

Dosis Pemeliharaan (kg/Ha)

Kotoran ayam

1.000

Bahan organik lain

50-200

6,8

Urea

28

2,4

MAP

2,4

0,4

Sodium metasilicate

10

1,5

 

Kultur Pakan Alami

Chaetoceros sp.

–          Kultur skala lab

–          Kultur skala intermediet

–          Kultur skala Massal

Skeletonema sp

–          Skala massal

Bagian 5

TEKNIK PEMANENAN DAN PENANGANAN PASCA PANEN

Prosedur Kultur

  1. Kebersihan harus selalu dijaga
  1. Semua peralatan harus sudah kering dan bersih sebelum dipakai
  2. Setelah media kultur siap, pemupukan dapat dilakukan
  3. Beberapa media kultur: liquid cultures, test tube agar slant cultures, agar disk cultures (micro algae disks)
  4. Aerasi harus selalu dijaga
  5. Wadah kultur berjarak sekitar 15 cm dari sumber cahaya
  6. Kepadatan maksimum untuk 2-4 liter media kultur umumnya tercapai sekitar 7-10 hari, tergantung dari jumlah inokulan, suhu, dan nutrien tersedia
  7. Kultur berkelanjutan dapat dilakukan dengan memanen sekitar ¾ kultur pada hari ke 5-7 ketika sel plankton masih dalam fase pertumbuhan (log growth) dan dilakukan restocking media kultur dengan media yang steril dan telah dipupuk
  8. Kultur berkelanjutan dapat dilakukan sebanyak 2-3 kali

PROSEDUR PEMANENAN

Nanoplankton (tidak dapat disaring dgn plankton net):

–          Dipanen dengan media budidayanya

–          Dikoagulasikan dengan menggunakan bahan aluminium sulphate (Al2(SO4)3.14H2O) dan ferric chloride (FeCl3.6H2O)

–          Kecepatan pengadukan 100 – 200 rpm dengan jumlah koagulan 100-500 mg/liter

B.  Netplankton (dapat disaring dengan plankton net)

PASCAPANEN

–          Langsung diberikan untuk pakan zooplankton/larva ikan

–          Dikeringkan dengan sinar matahari

–          Dikeringkan dengan alat freeze-drying

Cara panen : panen total atau panen sebagian

 

Genetic Engineering of Micro-algae

Ruang lingkup:

–          Manipulasi genetik yang melibatkan semua teknik yang dapat digunakan untuk memperbaiki karakteristik micro-algae dengan memodifikasi genetiknya.

–          Genetic engineering dapat dilakukan baik pada prokariot alga (blue green algae/Cyanophyta) maupun dan eukariot alga

Tujuan :

–          Meningkatkan kualitas produk

–          Meningkatkan produksi

–          Mempercepat pertumbuhan dan memperbaiki karakteristik sel

Bagian 6

ROTIFERS

 

Rotifer

Pakan Buatan

Ukuran

60-2000 mikron

30 mikron

Gerakan

Bergerak

Aerasi

Warna

Tergantung pakan

Segala warna

Handilng

Sulit

Sangat mudah

Penyimpanan

Sulit

Mudah

Dampak pada media

Baik

Air cepat rusak

Rotifer

–          Kandungan nutrisi tinggi

–          TToleransi hidup thd lingk. Tinggi

–          Laju reproduksinya tiggi

–          Dapat kultur masal

–          Ukuran kecil

–          Mobilitas rendah

–          Memiliki enzim autolysis

–          Tk. Pencemaran rendah

Spesiesnya

–          Air tawar

–          Air laut

Siklus hidup

–          Seksual                 : Kondisi buruk, betina miktik

–          Aseksual              : Kondisi baik, betina amiktik

Strain deferenses

 

Range

Average

Suhu

S

100-210

120

18-25

SS

50-120

80

28-35

L

130-340

239

28-35

Contoh

L              : B. Plicatilis (Air laut)

S              : B. Rotundiformis

SS           : B. Rotundiformis

Kondisi Umum Kultur

–          Salinitas 1-97 promil

–          Optimal pertumbuhan di salinitas laut 25-30 promil

–          Selisih salinitas media kultur rotifer dan media organisme yang akan dikasih makan sebaiknya tidak lebih dari 5 promil (bisa stress, tidak makan dan mati)

Suhu

15

20

25

 

 

 

 

Oksigen

–          Tidak kurang dr 2 ppm

–          Kelarutan O2 tergantung Suhu, salinitas, kepadatan rotifer dan makanannya

–          U/ menambah 2 O2 bs pke aeras (kecil)

pH

–          Seuai laut 7-8.3

Amonia

–          Dipengaruhi pH  dan suhu

–          Tidak lebih dr 1 ppm

Bacteria

–          Non pathogen   : Pseudomonas dan Actinetobacter (bs jd pakan tp gk direkomen)

Ciliata (Uronema sp dan Euplotes sp)

–          Indikator BO tinggi

–          Pesaing rotifer

–          Menghasilkan NO2-N

–          Dapat memangsa bakteri dan detritus

Pencegahannya:

–          Formalin 20 ppm ke alga 24 jam sblm inokulasi

–          Penyaringan dg < 50 mikron akan menyaring ciliata

Rotifer air tawar (B. calyciflorus, B. rubens)

Prosedur Kultur

–          Bisa indoor dan outdoor

Macam kultur

–          Stock Kultur        : Kultur Awal      Di tabung

–          Starter                  : Di Erlenmeyer 500 ml

–          Intermediet       : Di botol 15 L

–          Masal                    : 1-100 ton

Produksi Masal

Pembagian berdasarkan pakan

–          Alga                       : Pakan alami paling baik, tp ketersediaannya tdk pasti

–          Yeast                     : stock pasti

–          Alga dan yeast   : kombinasi… bagus

–          Pakan buatan    : Protein bisa diatur

Berdasarkan sistem panen

–          Batch culture

–          Semicontinous culture

Kepadatan:

–          Ekstensive          : 15-100 individu/ml

–          Semi intensif      : 200-500 individu/ml

–          Intensif                                : 1000 individu/ml

–          Super intensif    : 5000-10.000 individu/ml

Parameter pengamatan

–          Cara berenang

–          Kepadatan

–          Makan/gak makan

–          Jumlah yang bertelur

–          Jumlah telur  tiap individu

–          Jumlah yang mati

–          Ada atau tidak ciliate/protozoa

Kandungan Nutrisi Rotifers

–          Rotifers nano dan yeast                : hanya mengandung EPA tdk ada DHA

–          Karena ikan dan krustase butuh DHA bisa dilakukan pengkayaan dg DHA dan Alga

 

Disusun oleh Abdul Aziz

5 April 2013 @ Al hurriyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s