BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

PENGANTAR

Al-Qur’an: firman Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad saw. untuk menjadi pedoman dan pegangan hidup bagi umatnya hingga akhir zaman dan mukjizat Rasulullah sejak awal diturunkan. Sebagai pedoman dan pegangan hidup bagi kaum muslimin Al-Qur’an harus bermakna dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Perwujudan pesan-pesan Allah swt. melalui ajaran-ajaran Al-Qur’an haruslah dapat diaplikasikan dalam segala tingkah laku, perbuatan, perkataan, dan keadaan kita sehari-hari. Al-Qur’an yang mengandung tuntunan hidup itu tidak akan dapat memberi pengaruh sedikitpun kepada manusia dalam membawa mereka kepada jalan yang benar apabila nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya tidak diketahui, tidak dipahami,  tidak dikaji, dan tidak diamalkan.

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

Ada 6 langkah untuk berinterkasi dengan al-Qur’an, yaitu:

1. Al-Qur’an harus dipelajari bacaannya

2. Al-Qur’an harus dibaca dan didengarkan

3. Al-Qur’an harus dihafal

4. Al-Qur’an harus dipahami maknanya

5. Al-Qur’an harus dikaji tafsirnya

6. Al-Qur’an harus diikuti, diamalkan, dan didakwahkan

LANGKAH 1   : AL-QUR’AN HARUS DIPELAJARI BACANNYA

Langkah pertama dan utama ialah mempelajari Al-Qur’an. Yang dimaksud dengan mempelajari Al-Qur’an di sini ialah suatu upaya untuk mengetahui dan tahu membaca Al-Qur’an. Yang harus dilakukan adalah mempelajari huruf-huruf Al-Qur’an, mempelajari bagiamana cara membaca Al-Qur’an. Untuk memenuhi langkah ini, maka kita di waktu kecil diajarkan bagaimana cara membaca huruf-huruf Al-Qur’an, bagaimana cara mengucapkan huruf-huruf Al-Qur’an, dan bagaimana cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Untuk memenuhi langkah ini pulalah, maka pada saat ini dilakukan upaya-upaya ke arah itu dengan  mendidirikan lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur’an, seperti TKA, TPA, atau lainnya. Para orang tua yang menyadari pentingnya mempelajari Al-Qur’an bagi anak-anaknya akan berupaya dengan sungguh-sungguh agar anak-anaknya dapat membaca Al-Qur’an. Boleh jadi, hal itu dilakukan dengan cara mengajarkannya sendiri atau memanggil guru-guru privat yang dapat mengajarkan anak-anak mereka membaca Al-Qur’an. Anak-anak kita harus sejak dini diajak untuk mendekat dengan Al-Qur’an.

LANGKAH 2 : AL-QUR’AN HARUS DIBACA

Langkah kedua: membaca Al-Qur’an. Pengetahuan kita tentang bagaimana membaca Al-Qur’an harus dapat dipraktekkan terus menerus untuk membaca Al-Qur’an. Kita tidak boleh berhenti hanya sampai pada mengenal dan mengetahui membaca Al-Qur’an, tetapi juga Al-Qur’an dituntut untuk selalu dibaca.

Membaca Al-Qur’an, walaupun tidak memahami makna yang terkandung di dalam ayat yang dibaca, sangat dianjurkan dalam agama. Seseorang yang mebaca satu huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an diberi ganjaran satu kebajikan oleh Allah swt.  Dapat dibayangkan kalau kita membaca satu surat dari surat-surat Al-Qur’an, walaupun surat yang dibaca itu surat yang amat pendek.

Dalam membaca Al-Qur’an harus diperhatikan etika-etika dan hukum-hukum bacaannya. Al-Qur’an ketika dibacakan harus didengarkan.

LANGKAH 3  : AL-QUR’AN HARUS DIHAFAL

Langkah ketiga adalah menghafal Al-Qur’an. Idealnya, dan itu yang terbaik setiap muslim harus menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan, mulai dari surat pertama hingga surat terakhir. Hal ini menjadi penting dilakukan karena dengan hafalannya seseorang dengan mudah akan dapat menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai kebutuhannya, termasuk di dalamnya ketika memimpin shalat. Hanya saja, tidak mudah bagi setiap muslim untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Paling tidak yang menjadi kewajiban setiap muslim adalah menghafal Surah al-Fatihah karena surah ini selalu dibaca pada setiap rakaat shalat, lalu menghafal surah-surah pendek yang terdapat di dalam Juz Amma.

LANGKAH 4 : AL-QUR’AN HARUS DIPAHAMI MAKNANYA

Langkah keempat  yang harus dilakukan ialah memahami Al-Qur’an. Yang dimaksud ialah memahami secara harfiyah arti kata-kata atau terjemahan ayat-ayatnya. Untuk itu, setiap kali kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an, saat itu pula kita berusaha  memahami makna ayat-ayatnya. Dengan memahami maknanya itu, kita akan menjadi lebih dekat dan lebih akrab dengan Al-Qur’an.

Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh orang atau para ahli agar seseorang dapat memahami arti ayat-ayat Al-Qur’an dengan menyusun berbagai macam buku atau tuntunan praktis untuk memahami Al-Qur’an.  Ada yang menerjemahkannya kata per kata, bahkan ada yang ayat per ayat.

Membaca surat Al-Fatihah tanpa memahami maknanya tentu akan sangat berbeda kalau kita membacanya sambil memahami makna yang terkandung di dalamnya. Membaca sambil memahami maknanya akan menanamkan dalam diri kita segala pesan yang dimuat di dalamnya.

Hal ini diharapkan akan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang melakukan salat akan terasa khusyu’ shalatnya, apabila dia memahami makna bacaan-bacaan yang dibacanya selama salat itu. Al-Fatihah yang dibaca dan dipahami maknanya akan menambah kekhusyu’an, penghayatan, dan kesadaran seseorang.

LANGKAH 5 : AL-QUR’AN HARUS DIKAJI TAFSIRNYA

Langkah lima: mengkaji Al-Qur’an. Mengkaji Al-Qur’an adalah upaya lanjutan yang dilakukan untuk memahami dan menghayati Al-Qur’an secara lebih dalam. Pengkajian terhadap Al-Qur’an pada langkah ini dilakukan dengan mempelajari dan mengkaji secara lebih dalam dan lebih luas lagi.

Pada tahap ini, kita dituntut tidak hanya untuk memahami arti ayat-ayat Al-Qur’an secara harfiyah, tetapi lebih jauh dari itu, yaitu  mempelajari penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Mempelajari dan memahami penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an akan menjadikan kita memahami lebih jauh lagi pesan yang terdapat dalam ayat-ayat itu dan pesan-pesan yang terdapat di balik ayat-ayat itu, dan ini  hanya dapat diperoleh melalui pengkajian yang lebih dalam.

 LANGKAH 6 : AL-QUR’AN HARUS DIIKUTI, DIAMALKAN, DAN DIDAKWAHKAN TUNTUNANYA

Langkah keenam: mengikuti, mengamalkan, dan mendakwahkan tuntunan Al-Qur’an. Mengikuti, mengamalkan Al-Qur’an berarti mengikuti dan mengamalkan segala ajaran yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, lalu mendakwahkan tuntuna-tuntunannya itu kepada orang lain.

Kandungan Al-Qur’an secara garis besarnya dapat dibagi atas dua bahagian, yaitu kandungan yang berisi larangan dan perintah. Mewujudkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari  dari sisi ini sangatlah mudah, yaitu bahwa segala yang dilarang harus ditinggalkan dan segala yang diperintahkan harus dikerjakan. Larangan dan perintah yang terdapat di dalam Al-Qur’an diperoleh melalui langkah pemahaman dan pengkajian Al-Qur’an.

Al-Qur’an mengandung kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang bersifat umum dan global. Sebahagian dari perintah dan larangan di dalam Al-Qur’an diungkapkan secara umum, tidak mendail dan terinci. Untuk memahami dan menhgetahui rinciannya, kita dituntut untuk memahami dan mempelajari hadis Nabi Muhammad saw. Hal-hal yang belum terinci dalam Al-Qur’an dapat ditemukan rincian-rinciannya dalam hadis Nabi. Itulah sebabnya, maka Al-Qur’an dan Hadis merupakan dua sumber hukum Islam, Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama yang dipandang sebagai undang-undang dasar, sedangkan Hadis merupakan sumber kedua sesudah Al-Qur’an yang dipandang sebagai undang-undang yang berfungsi sebagai penjelasan terhadap hal-hal yang bersifat umum di dalam Al-Qur’an.

 *makalah disampaikan pada pembukaan halaqah tafsir dan pembukaan program PSQ (5/9/2012)

Sumber: http://psq.or.id/artikel/berinteraksi-dengan-al-qur%E2%80%99an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s