Kegiatan Enterpreneur-ku Bersama Siswa SMA Seribu Salam

CIMG0328

Kegiatan enterpreneur ini merupakan salah satu program unggulan SMA Seribu Salam dalam rangka membentuk karakter siswanya agar memiliki jiwa kewirausahaan. Hal ini tertuang dalam Misi SMA Seribu Salam yang ke-4 yakni, Membangun Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kontekstual sebagai Pembentukan Jiwa Kewirausahaan.  Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap hari sabtu mulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 16.00 WIB di kompleks kampus SMA Seribu Salam. Bentuk kegiatan yang dilakukan diantaranya bercocok tanam tanaman sayuran, tanaman bunga potong, budidaya perikanan dan juga marketing practice. Selain dalam bentuk kegiatan di lapangan siswa SMA Seribu Salam juga mengikuti kegiatan pembekalan dalam bentuk kuliah umum di dalam kelas dalam setiap bulannya. Kegiatan ini diisi oleh guru entrepreneur SMA Seribu Seribu Salam, Praktisi/Ahli yang sengaja diundang, atau juga bahkan Owner TedCo Grup secara langsung sebagai donatur SMA Seribu Salam ini yang juga bliau adalah seorang ahli di bidang manajemen bisnis. Kegiatan kuliah umum ini tentu bermanfaat dalam membentuk sisi intelektualitas siswa sehingga siswa tidak hanya bisa melakukan entrepreneur ini di lapangan, tapi juga mampu membicarakannya dalam tataran konsep, analisis, dan manajemen.

Berikut adalah beberapa dokumentasi saat kegiatan:

CIMG0897

(Kuliah umum dan diskusi permasalahan)

CIMG0329

(Praktik Budidaya tanaman sayuran)

CIMG0015

(Hasil kegiatan budidaya sayuran siswa)

CIMG0652

(Praktik Budidaya Perikanan)

CIMG0556

(Praktik pengemasan pascapanen)

CIMG0572

(Foto bersama guru dan murid)

Sekian

Tulisan ini dibuat oleh Abdul Aziz, S.Pi

untuk bahan press realise web Yayasan SMA Seribu Salam (tempat Abdul Aziz mengajar-part time-)

Resume Kajian Tafsir 1 @Al Hurriyyah IPB

Kajian ini diadakan setiap hari sabtu pukul 06.00-07.00 di Aula Masjid Al Hurriyyah IPB bersama Ust. Drs. E. Syamsuddin, beliau adalah Ketua DKM Al Hurriyyah IPB

Berikut adalah beberapa catatan yang didapat, semoga bermanfaat…ūüôā

Bismillah…

Berbagai macam tafsir yang kita ketahui baik dalam bahasa indo atau pun bhs. Arab

  1. Tafsir Tartibi, tafsir yang dikaji secara urut. Ada yang wad’I (per kata) ada yang bukan wad’i. contoh wad’I: tafsir jalalain (pengarangnya ada 2, namanya sama2 jalal), kemudian tafsir ibnu abbas juga di zaman dahulu di kalangan sahabat. Yang tidak termasuk wad’I seperti dzilalil qur’an, Ibnu Katsir
  2. Tafsir Maudu’I (tematik), seperti tafsir ahkam‚Ķ (hukum2 dan sejarah2)

Yang termasuk ini diantaranya Tafsir shobuni (yg kita pelajari saat ini)

Talaqqi Kitab…

Kuliah 1

Pembuka Qur’an

Surat Makiyyah dan ayat-ayatnya¬† berjumlah 7¬† berdasarkan ijma’ Sahabat

Yang dimaksud makiyyah itu berarti surat ini turun sebelum hijrah walau pun turunnya belum tentu di mekkah.

Kandungan surat:

Surat ini memiliki beberapa nama, yang terkenal di antara nama2 itu adalah sbb:

  1. Al Fatihah: Karena pembuka¬† dari Al Qur’an. Ia adalah yang pertama dalam al qur’an dalam susunan yang disepakati para sahabat atas petunjuk rasulullah kepada zaid bin tsabit setiap kali wahyu diturunkan (bukan dalam urutan turunnya). Berkata Ibnu Jarir At Thabari (Pengarang Tafsir At Thabari) dikatakan al fatihah karena qur’an dalam penulisannya dibuka dengannya¬† juga dibaca setiap kali awal shalat
  2. Ummul Kitab: Karena dia mencakup maksud2¬† yang mendasar (fundamental) bagi kitabil ‘aziz (Al Qur’an). Didalamnya: ada pujian kepada Allah yang maha agung dan maha tinggi. Dan didalamnya terdapat ketetapan ketuhanan Allah, di dalamnya ada prnyataan ibadah terhadap perintah Allah yang maha tinggi dan juga larangan-Nya. Di dalamnya ada permohonan untuk mendapat petunjuk dan meminta akan ditetapkan dalam iman. Dan di dalamnya ada sejarah (berita) kisah umat-umat terdahulu (tafsir sirotolladzia an’amta ‘alaihim itu ada di QS. An Nisa 69), dan di dalamnya menjelaskan kepada tahapan2 orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dan kedudukan orang-orang celaka. Dan selanjutnya disebut ummi karena penisbatan terhadap nama-nama surat lainnya dan orang2 arab menamakan setiap masalah yang menjadi kumpulan dengan katan Umm‚Ķ (klo om, itu dari kata ‘am=Paman) seperti halnya mereka mengatakan mekah “Ummul Quro” (kumpulan qoryah/pusat kampung karena kampung2 lainnya mengikuti mekah) mereka juga mengatakan bendera perang sebagai Umman=Pusat perhatian yg semuanya¬† merujuk kpd bendera itu semua pasukan saat perang. Bumi juga disebut Umman‚Ķ karena dikumpulkan di dalamnya makhluk2 di atasnya,juga di sana manusia dilahirkan‚Ķ
  3. Sab’ul Matsani (7 ayat yang diulang): Karena Al Qur’an merupakan ayat yg diulang2 saat shalat.¬† Dan teah diriwayatkan dari kebanyakan sahabat juga bahwa mereka menafsirkan firman Allah ta’ala dalam QS. Al Hijr ayat 87 “sungguh telah kami berikan kepada kalian tujuh ayat yang diulang”. Oleh karenanya QS ini disebut ayat yg berulang berdasarkan kesepakatan qurro dan ulama

Sekian… Insyaallah dilanjut lagi pekan depan.

Sebuah Optimisme

1.‚ÄúSesungguhnya, Sebuah pemikiran itu akan menjadi kenyataan bila mana kuat rasa keyakinan kita kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, smakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya…‚ÄĚ

¬†2.‚ÄúKami percaya bahwa tabir yang memisahkan antara kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan. jika harapan itu kuat dalam diri kita, maka dengan izin Allah kita akan mencapai banyakkebaikan…‚ÄĚ

3.‚ÄúKalian tidaklah lebih lemah dari generasi sebelum kalian, yang dengan perantara mereka Allah membuktikan kebenaran manhaj ini…‚ÄĚ

Dari kata-kata yang pertama disiratkan bahwa segala cita-cita segala pemikiran, segala harapan dan segala apapun itu semuanya bisa kita wujudkan, bilamana terangkum dalam diri kita 4 hal yg sudah disebutkan: keyakinan, keikhlasan, semangat dan kerelaan beramal. Sebagai tambahan: Dasar keimanan adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat.

Hal kedua: hanya keputusasaanlah yang bisa membatasi kita dari  cita-cita, harapan dan terealisasinya pemikiran itu

Tiga: Kita tidak lebih lemah dari siapapun orang-orang sebelum kita, hatta orang-orang di zaman kenabian sekalipun. ketika mereka bisa maka kenapa kita tidak, yang membedakan antara kita dan mereka hanya kualitas dan kuantitas usaha saja saya rasa, selama kita berusaha… yakin, ikhlas, semangat dan rela beramal maka insyaallah bisa.

Terlepas dari semua ini, Inna lillahi wa inna ilahi raji’un, semuanya berasal dari Allah dan akan dikembalikan kepada Allah.. Kita sebagai manusia hanya diwajibkan berusaha, adapun hasil itu perkara bagian Allah…. “Bekerjalah kamu, maka Allah Rasulullah dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu, bertaqwalah sekemampuan kalian, ketika kalian berazam maka bertawakallah…”

Wallahua’lam bissawab…

Bogor, 05 April 2013

Abdul Aziz

Terinspirasi dari Buku Bacaan

Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna

Hanya sedikit mengarsipkan pemahaman: Tekhnologi Produksi Plankton, Bentos dan Alga (Pakan Alami)

Kuliah 1

TEKNOLOGI PRODUKSI PAKAN ALAMI

  1. Nanochloropsis
  2. Isochrysis
  3. Chaetoceros
  4. Spirulina
  5. Skeletonema
  6. Pavlopa
  7. Tetraselmis
  8. Volvox
  9. Rodhomonas
  10. Chlorella

Larva ikan >>> Karnivora >>> Mengandalkan pengelihatan dlm mncari makan

Pakan alami digunakan karena:

  1. Ukuran larva >>> Bukaan mulut
  2. Saluran pencernaan

Peran pakan alami:

  1. Growth and development
  2. Imune enhancer >>> Pertahanan tubuh >>> Kebugaran
  3. Imuostimulan >>> Terhadap penyakit >>> Kesehatan

Fitoplankton

Peran fitoplankton

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Produsen Primer Perairan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Peran kunci siklus nutrient

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Menjaga kestabilan pH

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Biofilter hidup

Pemanfaatan Fitoplankton

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sumber makronutrien, vitamin dan trace elements untuk organisme perairan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Enhancer warna pada ikan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pemurnian air dan pengolahan limbah

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sebagai therapeutic, antibiotic-like effect untuk menjaga kesehatan ikan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sebagai bahan baku pangan, pakan, kosmetik dan obat-obatan

 

 

 

Plankton dalam akuakultur

  • Berukuran lebih kecil dari plankton net (nanoplankton)

Chlorella¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† (3-9 ¬Ķm)

Isochrysis galbana¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† (5-7 ¬Ķm)

Tetraselmis chuii¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† (7-10 ¬Ķm)

Dunaliella tertiolecta ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† (7-9 ¬Ķm)

Nannochloris oculata ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† (2-4 ¬Ķm)

Chaetoceros gracilis ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† (6-8 ¬Ķm)

Nitzschia closterium ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† (2-4 ¬Ķm)

Cyclotella nana ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† (6-10 ¬Ķm)

  • Ukuran lebih besar dari plankton net

Skeletonema

Phaeodactylum

Nilai Nutrisi fitoplankton tergantung pada:

  • Ukuran sel
  • Digestibility
  • Komponen toksik
  • Komposisi biokimia
  • Komponen penting di lipid phyto: HUFA, EPA, ARA, DHA
  • Phyto juga merupakan sumber ascorbic acid
  • NILAI NUTRISI PHYTO JUGA DIPENGARUHI OLEH KONDISI KULTURNYA

FAKTOR PEMBATAS AIR TAWAR                  >>> PHOSPHATE

FAKTOR PEMBATAS AIR LAUT  >>> NITROGEN

Sumber Kontaminan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Fertilizer

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Starter Culture

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Water supply system

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Water source

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Rain

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Bugs

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Air

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Air supply system

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Culture tank

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Mouth

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dirty hand

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Glassware/Equipment

 

Pola Pertumbuha Fitoplankton

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Lag phase/induction phase¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Fase awal inokulasi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Exponential growth phase¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Kepadatan bertambah sesuai logaritma

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Stationary phase¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Fase seimbang antara hidup dan mati

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Declining growth rate phase¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Penurunan kecepatan tumbuh

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Death phase¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Jumlah sel menurun

 

Bagian 2

JENIS-JENIS FITOPLANKTON

  • Alga Hijau (Chlorophyceae)
  • Alga Coklat (Bacillariophyceae/Phaeophyceae)
  • Alga Keemasan (Chrysophyceae)
  • Alga Merah (Rhodophyceae)
  • Alga Hijau Kebiruan (Cyanophyceae)

Pigmen pada fitoplankton

1. Warna biru (Fikosianin)

2. Warna hijau (Klorofil)

3. Warna pirang (Fikosantin)

4. Warna merah (Fikoeritrin)

5. Warna kuning (Xantofil)

6. Warna keemasan (Karoten)

 

ALGA HIJAU

  • Chlorococcum, Chlorella ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : sel tunggal tidak bergerak
  • Chlamydomonas, Euglena, Tetraselmis ¬†¬†¬†¬†¬† : sel tunggal dapat bergerak
  • Volvox, Scenedesmus¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : koloni dapat bergerak
  • Hydrodictyon reticulatum ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : koloni tidak dapat bergerak
  • Spyrogyra, OedogoniumSpyrogyra, OedogoniumSpyrogyra, Oedogonium¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† :¬† bentuk benang
  • Ulva, Chara ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : bentuk lembaran

ALGA COKLAT

  • Berwarna coklat karena mengandung silikat
  • Berbentuk seperti cawan petri
  • Reproduksi secara pembelahan sel
  • Contoh :¬† Chaetoceros calcitran , Skeletonema costatum

CYANOPHYCEAE

  • Berwarna hijau kebiruan karena mengandung klorofil dan pigmen kebiru-biruan yaitu phycocyanin
  • Berbentuk benang yang melingkar seperti spiral, misalnya Spirulina

 

Bagian 3

KULTUR PAKAN ALAMI

Kultur Murni

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Merupakan hasil isolasi dan dikultur dalam kondisi steril

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Membutuhkan alat dan bahan steril

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dapat menggunakan 2 jenis media (Agar dan Cair)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Aplikasi medium premix (Medium walne dan guilard)

Teknik isolasi Mikroalga

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Metode spraying

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Metode pipa kapiler

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Isolasi sel/koloni/filament

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pengencer bertingkat

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Gesek agar

Treatment Media Kultur

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Filtrasi : bisa memakai filter pasir, cartridge atau kersik ukuran 5 mikron

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Media yang banyak mengandung bahan organik ditreatment memakai

bahan karbon aktif

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Treatment akhir bisa berupa UV sterilized, klorinasi, atau sterilisasi

Persyaratan kultur

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Biologi¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Bebas kontaminan (protozoa, dll)¬† >>> Sterilisasi

(Desinfeksi/Chlorinasi)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kimia¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Tercukupinya nutrisi (Makronutrien, Mikronutrien)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Fiskimper¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Cahaya, suhu, pH

 

Faktor pendukung

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Nutrisi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† pH

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Cahaya

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Aerasi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Suhu

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Salinitas

Kuliah 4

Pupuk dan Pemupukan

Faktor mendasar yang mempengaruhi kelayakan pembangunan, perbaikan dan pengembangan akuakultur

Independen

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† tidak dipengaruhi faktor lain

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† tidak dapat dirubah secara efektif

ex:

  • Lingkungan fisik
  • Manusia

Dependen

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† dipengaruhi faktor independen

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† dipengaruhi faktor dependen lain

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† dapat diubah secara efektif

ex:

  • Teknologi
  • Komoditas
  • Infrastruktur
  • Sarana produksi (benih, pakan, obat-obatan dsb.)

PUPUK

—  Organik :  memicu perumbuhan zooplankton (rotifera, mikro-krustasea, protozoa, dll); serta menumbuhkan organisme bentik seperti berbagai jenis cacing

—  Inorganik  : menjaga keseimbangan nutrien, terutama N, P, dan Si

Pentingnya menjaga stabilitas plankton:

¬ó- Phytoplankton merupakan dasar dari produktivitas primer suatu perairan yang menyediakan sumber pakan bagi zooplankton dan meiofauna. Algae juga merupakan tempat untuk berbagai bakteri berkembang-biak

¬ó- Penyedia oksigen yang murah pada media budidaya

– Membatasi penetrasi cahaya ke dasar media budidaya

¬ó- Memproduksi CO2, buffer pH

¬ó- Biofilter alami : menjaga stabilitas dan agar konsentrasi komponen2 toksik seperti ammonia tetap rendah

Pupuk Organik

—  Dikonsumsi langsung oleh ikan dan udang

—  Memicu proliferasi dari organisme pengguna pupuk

—  Menumbuhkan koloni bakteri yang dapat dikonsumsi benih ikan dan udang

Pemakaian Pupuk Inorganik

—  Tipe pupuk : jenis nutrien, komposisi, dan solubility

—  Rasio N:P = <5:1 dinoflagelata, 15-20:1 diatom, rasio N:P

>20:1 blue-green algae

—  Dosis harian

—  Frekuensi pemakaian

Menumbuhkan plankton yang menguntungkan (diatom & chlorofita):

—  Pertahankan kadar P >0,1 ppm

—  Jika N sudah cukup, jangan memberikan pupuk berbasis N

—  Jika N berlebihan, berikan pupuk berbasis P untuk menjaga rasio ideal N:P

—  Pupuk Si diperlukan jika kandungan Si perairan  <1,0 ppm

Rekomendasi Dosis untuk Bak Pemeliharaan:

Dosis Organik Urea MAP

Si

Awal

8,3

4,7

0,24

0,42

Pemeliharaan

1,2

0,7

0,04

0,02

Rekomendasi Dosis untuk Kolam:

Jenis Pupuk

Dosis Awal

(kg/Ha)

Dosis Pemeliharaan (kg/Ha)

Kotoran ayam

1.000

Bahan organik lain

50-200

6,8

Urea

28

2,4

MAP

2,4

0,4

Sodium metasilicate

10

1,5

 

Kultur Pakan Alami

Chaetoceros sp.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kultur skala lab

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kultur skala intermediet

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kultur skala Massal

Skeletonema sp

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Skala massal

Bagian 5

TEKNIK PEMANENAN DAN PENANGANAN PASCA PANEN

Prosedur Kultur

  1. Kebersihan harus selalu dijaga
  1. Semua peralatan harus sudah kering dan bersih sebelum dipakai
  2. Setelah media kultur siap, pemupukan dapat dilakukan
  3. Beberapa media kultur: liquid cultures, test tube agar slant cultures, agar disk cultures (micro algae disks)
  4. Aerasi harus selalu dijaga
  5. Wadah kultur berjarak sekitar 15 cm dari sumber cahaya
  6. Kepadatan maksimum untuk 2-4 liter media kultur umumnya tercapai sekitar 7-10 hari, tergantung dari jumlah inokulan, suhu, dan nutrien tersedia
  7. Kultur berkelanjutan dapat dilakukan dengan memanen sekitar ¬ĺ kultur pada hari ke 5-7 ketika sel plankton masih dalam fase pertumbuhan (log growth) dan dilakukan restocking media kultur dengan media yang steril dan telah dipupuk
  8. Kultur berkelanjutan dapat dilakukan sebanyak 2-3 kali

PROSEDUR PEMANENAN

Nanoplankton (tidak dapat disaring dgn plankton net):

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dipanen dengan media budidayanya

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dikoagulasikan dengan menggunakan bahan aluminium sulphate (Al2(SO4)3.14H2O) dan ferric chloride (FeCl3.6H2O)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kecepatan pengadukan 100 ‚Äď 200 rpm dengan jumlah koagulan 100-500 mg/liter

B.  Netplankton (dapat disaring dengan plankton net)

PASCAPANEN

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Langsung diberikan untuk pakan zooplankton/larva ikan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dikeringkan dengan sinar matahari

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dikeringkan dengan alat freeze-drying

Cara panen : panen total atau panen sebagian

 

Genetic Engineering of Micro-algae

Ruang lingkup:

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Manipulasi genetik yang melibatkan semua teknik yang dapat digunakan untuk memperbaiki karakteristik micro-algae dengan memodifikasi genetiknya.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Genetic engineering dapat dilakukan baik pada prokariot alga (blue green algae/Cyanophyta) maupun dan eukariot alga

Tujuan :

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Meningkatkan kualitas produk

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Meningkatkan produksi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Mempercepat pertumbuhan dan memperbaiki karakteristik sel

Bagian 6

ROTIFERS

 

Rotifer

Pakan Buatan

Ukuran

60-2000 mikron

30 mikron

Gerakan

Bergerak

Aerasi

Warna

Tergantung pakan

Segala warna

Handilng

Sulit

Sangat mudah

Penyimpanan

Sulit

Mudah

Dampak pada media

Baik

Air cepat rusak

Rotifer

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kandungan nutrisi tinggi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† TToleransi hidup thd lingk. Tinggi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Laju reproduksinya tiggi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dapat kultur masal

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Ukuran kecil

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Mobilitas rendah

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Memiliki enzim autolysis

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Tk. Pencemaran rendah

Spesiesnya

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Air tawar

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Air laut

Siklus hidup

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Seksual¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Kondisi buruk, betina miktik

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Aseksual¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Kondisi baik, betina amiktik

Strain deferenses

 

Range

Average

Suhu

S

100-210

120

18-25

SS

50-120

80

28-35

L

130-340

239

28-35

Contoh

L              : B. Plicatilis (Air laut)

S              : B. Rotundiformis

SS           : B. Rotundiformis

Kondisi Umum Kultur

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Salinitas 1-97 promil

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Optimal pertumbuhan di salinitas laut 25-30 promil

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Selisih salinitas media kultur rotifer dan media organisme yang akan dikasih makan sebaiknya tidak lebih dari 5 promil (bisa stress, tidak makan dan mati)

Suhu

15

20

25

 

 

 

 

Oksigen

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Tidak kurang dr 2 ppm

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kelarutan O2 tergantung Suhu, salinitas, kepadatan rotifer dan makanannya

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† U/ menambah 2 O2 bs pke aeras (kecil)

pH

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Seuai laut 7-8.3

Amonia

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dipengaruhi pH¬† dan suhu

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Tidak lebih dr 1 ppm

Bacteria

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Non pathogen¬†¬† : Pseudomonas dan Actinetobacter (bs jd pakan tp gk direkomen)

Ciliata (Uronema sp dan Euplotes sp)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Indikator BO tinggi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pesaing rotifer

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Menghasilkan NO2-N

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Dapat memangsa bakteri dan detritus

Pencegahannya:

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Formalin 20 ppm ke alga 24 jam sblm inokulasi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Penyaringan dg < 50 mikron akan menyaring ciliata

Rotifer air tawar (B. calyciflorus, B. rubens)

Prosedur Kultur

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Bisa indoor dan outdoor

Macam kultur

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Stock Kultur¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Kultur Awal¬†¬†¬†¬†¬† Di tabung

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Starter¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Di Erlenmeyer 500 ml

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Intermediet¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Di botol 15 L

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Masal¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : 1-100 ton

Produksi Masal

Pembagian berdasarkan pakan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Alga¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : Pakan alami paling baik, tp ketersediaannya tdk pasti

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Yeast¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : stock pasti

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Alga dan yeast¬†¬† : kombinasi‚Ķ bagus

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pakan buatan¬†¬†¬† : Protein bisa diatur

Berdasarkan sistem panen

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Batch culture

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Semicontinous culture

Kepadatan:

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Ekstensive¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : 15-100 individu/ml

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Semi intensif¬†¬†¬†¬†¬† : 200-500 individu/ml

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Intensif¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : 1000 individu/ml

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Super intensif¬†¬†¬† : 5000-10.000 individu/ml

Parameter pengamatan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Cara berenang

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kepadatan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Makan/gak makan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Jumlah yang bertelur

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Jumlah telur¬† tiap individu

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Jumlah yang mati

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Ada atau tidak ciliate/protozoa

Kandungan Nutrisi Rotifers

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Rotifers nano dan yeast¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† : hanya mengandung EPA tdk ada DHA

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Karena ikan dan krustase butuh DHA bisa dilakukan pengkayaan dg DHA dan Alga

 

Disusun oleh Abdul Aziz

5 April 2013 @ Al hurriyyah

Resume MKOA: Efek Obat dalam Akuakultur terhadap lingkungan (Bab 7)

Pendahuluan

Akuakultur berkembang lebih cepat dari sector produksi suplay pangan hewani lain

Kontribusinya:

1970                       3.9 %

2005                       33 %

Dari sisi sistem dan teknologi: Traditional >>> Intensif

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Penyakit infeksius menjadi ancaman

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Ikan dan udang sering terganggu dengan adanya penyakit bacterial

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Akuakulturis menggunakan antimikrobakterial (terutama yg sintesis: antibiotik dan bahan2 kimia lainnya) u/ mengatasinya

* Yang dibicarakan hanya bacterial karena kalau viral masih sulit u/ ditangani

Bahan kimia dalam akuakultur

  • Disinfektan (e.g. hydrogen peroxide dan malachite green)
  • Antibiotik (e.g. sulfonamides dan tetracycline)
  • Anthelmintic agents (e.g. pyrethroid insecticides and avermectines)

 

A. Efek samping disinfektan terhadap lingkungan akuakultur

Bahan kimia : H2O2 (hydrogen Peroksida), malachite green (anti fungi), KMnO4

1. H2O2

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† FDA (BPOM AS) mengeluarkan H2O2 dari daftar bahan kimia yang diperbolehkan untuk akuakultur (2007)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Biasa digunakan untuk bahan anti-fungiterutama pada telur

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† H2O2 untuk anti-bakteri

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† H2O2 merupakan oksidator yang kuat, biasa juga digunakan sebagai pemutih kertas

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Mengandung unsur O2 yang sangat reaktif, sehingga digunakan untuk desinfektan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Efek samping: kerusakan jaringan (melisis/mengoksidasi membrane/jaringan luar bakteri)

2. Malachite green

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sering digunakan u/ mengontrol Ichtiophthirius dan ektoparasit lainnya (Chilodonella, Costia, Scypedia, Bodamonas, Trichophyra)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Merupakan bahan pewarna sintetis, desinfektan, pewarna woll. Kapas, sutra, kertas

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Bersifat karsinogenik (memicu pertumbuhan sel-sel abnormal)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Sulit didegradasi, hasil degradasi yg sejauh ini berhasil dilakukan masih bersifat karsinogenik

 

2. Efek samping Antibiotik terhadap lingkungan akuakultur

  • Memunculkan bakteri yang resisten terhadap antibiotik tertentu

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Plasmide yang membawa gen resisten bisa menular ke bakteri-bakteri lainnya melalui proses konjugasi (Nakajima 1983)

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† bakteri resisten akan kebal dengan obat yang sama (Duran and Marshal 2005)

E. Coli (penyebab diare), Salmonella thyphi (Penyebab types), Shigella sannei (penyebab disentri) pada manusia sudah resisten dengan 10 antibiotik teresebut

  • Treathment alternatif:
  1. Vaksinasi
  2. Probiotik: suatu mikroorganisme hidup yang apabila diberikan dalam jumlah yang mencukupi dapat meningkatkan kesehatan inang (Reid et al 2003)>>> Sbg imunostimulan
  3. Essential Oil (EO): Cairan volatile yang berisi substansi yang bertanggung jawab terhadap munculnya bau pada tumbuhan >>> Bisa diekstrak dg destilasi dari bunga, tunas, batang, dll
  4. Phage Theraphy: menggunakan bakteriopage u/ terapi (Page merupakan virus yang menginfeksi bakteri)

 

3. Efek samping Anthelmitic terhadap lingkungan akuakultur

  • Pestisida adalah contoh yang biasa digunakan
  • Dampak buruk pestisida
  1. Kesehatan manusia: keracunan melalui mulut, kulit dan pernafasan

Baru bisa diketahui setelah kronis (dalam waktu yang lama)

Teratogenik (elahiran cacat), mutagenic, karsinogenik

  1. Kualitas lingkungan

 

5. Beberapa kasus penolakan Komoditas Indonesia

  1. Ekspor udang sumut diancam tertolak di unieropa akibat kandungan logam berat dan kimia bernahaya
  2. Ikan tuna Indonesia ditolak uni eropa karena kandungan logam beratnya

 

Disusun oleh Abdul Aziz

01 April 2013 @ Al Hurriyyah

Resume MKOA: Shrimp Farm Health Manajemen (Bab 3)

Dilakukan untuk menganalisis faktor resiko dan pengendalian penyakit

Penyakit yang umum terjadi pada udang diantaranya ada WSSP, IMNV, MBV, KNV, BMN, BP dan EMS

Faktor resiko udang

  1. Musim penebaran
  2. Persiapan kolam
  3. Persiapan air
  4. Screening benur
  5. Manajemen air
  6. Manajemen pakan
  7. Manajemen dasar kolam
  8. Treathmen penyakit

Point of WSSV out break (titik Puncak wabah penyakit WSSV)

  1. Hasil kejadiannya, terjadi perubahan dari sehat ke sakit
  2. Jumlah faktor pathogen berpengaruh pada perkembangan penyakit dan populasi di kolam
  3. Melalui different  route (melalui insang, mulut, kulit, dll)
  4. Lingkungan

Risk Factor dr WSSV

1. Musim penebaran (januari-maret WSSV mncapai outbreak)

2. Persiapan tambak

Faktor resiko: Sisa siklus sebelumnya (black layer)

biasanya mengandung H2S dan juga mikroba pathogen.

Langkah-langkah u/ menghilangkannya:

–¬† Ploughing (Pembalikan tanah/pembajakan)

–¬† Liming (pengapuran: CaCo3)

3. Persiapan air dan penyaringan kolam

  • Persiapan

–¬† Penyaringan

–¬† Desinfeksi

–¬† Pemupukan

  • penyaringan kolam :

–¬†¬† Pemupukan

–¬†¬† Skala perbandingan kolam dgn reservoir = 2:1.

–¬†¬† Reservoir berguna untuk sticking air

4. Screening Benih

Titik kritis : kualitas benur, prevalensi tinggi

–¬† Rumus Prevalensi ¬†¬† : Jumlah ikan sakit/jumlah ikan hidup x 100%

–¬† Rumus Intensitas¬†¬†¬†¬† : Jumlah sakit WSSV/seluruh yang sakit x 100%

Langkah-langkah yg dapat dilakukan:

–¬† Cek kelayakan benur

–¬† Transportasikan benur sesingkat mungkin

–¬† Larva lemah dan mati harus dihilangkan

5.  Manajemen kualitas air

Titik kritisnya:

– Pergantian air

– Filtrasi

– pH

– Salinitas tinggi

* Jika ph tinggi, gak terionisasi amoniaknya

* Jika ph rendah amoniaknya terionisasi.

Langkah-langkah pengendalian pH dan salinitas

–¬† Preventif : Monitoring

– Curative (bila sudah terlanjur):

Daun katapang (menurunkan pH)

Gedebog pisang (menaikan kesadahan)

Kapur (menetralkan pH)

6. Manajemen pakan

Titik kritis; kuantity, kuality.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Skedul timenya harus baik.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Blind feedingpemberian pakan dari umur 0-40, untuk menentukan FR, kekuranga: nnya bisa over atau under estimated.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kalkulasi pakan berdasarkan biomassa.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Formulasi

7. Manajemen dasar kolam

Titik kritis : black layer

Langkah :

–¬† Pembalikan tanah

–¬† Pengapuran

–¬† Pemeriksaan setiap minggu (terutama daerah pemberian pakan)

–¬† Dasar kolam disipon

8. Treatment penyakit

Titik kritis : sumber penyakit (fisik, kimia, biologis)

Langkah :

– Monitoring kesehatan ikan

– Penerapan biosekuritas dalam produksi

– Farm record maintenance.

 

Disusun oleh: Abdul Aziz

Senin, 01 April 2013 @ Al Hurriyyah

Resume Manajemen Kesehatan Ikan bag 1 (Bab 1-2)

Bab 1

Manajemen Kesehatan Organisme Budidaya

 

Faktor2 terjadinya penyakit

  1. Status Fisiologi: Natural, Acquired imunity
  2. Inang: Spesies, Umur, Strain
  3. Husbandry: Kepadatan, Penanganan, Fasilitas.
  4.  Environmental: Suhu, Nitrit, Nitrat, O2, CO2, pH, Bahan2 Organik
  5. Nutrisi: Feeding Schedule, Quantity, Quality
  6. Pathogen: Pathogen type, species, strain

Tujuan dilakukannya upaya2 MKOA:

  1. Agar penyakit tdk masuk ke tubuh ikan
  2. Mengurangi keganasan penyakit
  3. Tidak meninmbulkan dampak yang besar untuk akuakultur

Usaha-usaha yang dapat dilakukan agar ikan aman:

  1. Menggunakan SPF (Spesific Pathogen Free)
  2. Dengan karantina
  3. Desinfeksi air scara rutin
  4. Pemusnahan masal bagi ikan yang terinfeksi dan tak terkendali
  • Tujuan karantina: untuk mendeteksi dan mencegah penularan penyakit
  • The Eksposes Dosis: Dosis keterpaparan… suatu dosis dimana ikan mampu bertahan berdampingan dg pathogen
  • Segregasi salah satu upaya agar ikan terhindar dari penyakit
  • Segregasi=Pemisahan (berdasar jenis/umur)

 

Bab 2

Manajemen Kesehatan dan Biosekuritas di Hatcheri Udang

  • Biosecurity adalah upaya2 yg dilakukan u/ kemanan dalam proses produksi (pembenihan, pendederan, pembesaran)

Enam langkah kebutuhan produksi hatchery yg efektif

  1. Esensial infrastruktur (Design pemisahan infrastruktur yg baik
  2. Ada POB yang baik: POB=Alur proses produksi dari awal sampai akhir
  3. Pemeliharaan biosecurity
  4. Clean water yang mencukupi
  5. Pengguanaan bahan kimia yang bertanggung jawab
  6. Jaminan kesehatan induk dan post larva

Jaminan kesehatan ikan merupakan sebuah upaya proaktif bkn reaktif…

  • Ada 3 Level diagnosa: Makroskopik, Mikroskopik, molekuler
  • Kriteria kelayakan Benur: Menggunakan diagnosa terbalik dari level 3 ke level 1. Cz level 3 merupakan titik penentu kelayakan.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Level 3

wajib skor 100

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Level 2

>100 Resiko penyakit rendah, direkomendasikan

65-100 Resiko penyakit sedang, masih direkomendasikan

<65 Resiko penyakit tinggi, tidak direkomendasikan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Level 1

>30 Resiko rendah, direkomendasikan

20-30 Resiko sedang, masih direkomendasikan

<20 Resiko tinggi… Tidak direkomendasikan